Rekonsiliasi Fiskal – Makalah, Pengertian, Jenis, Penyebab, Contoh

Posted on

Rumus.co.id – Kali ini kita akan membahas materi yang sangat menarik yaitu tentang Rekonsiliasi Fiskal, Kami akan jabarkan secara detail dan lengkap mulai dari pengertian Rekonsiliasi Fiskal, Jenis-jenis, Penyebab Terjadinya Rekonsiliasi Fiskal, Beserta Contohnya.

Pengertian Rekonsiliasi Fiskal

Rekonsiliasi fiskal ialah proses penyesuaian atas laba komersial yang berbeda dengan ketentuan fiskal untuk menghasilkan penghasilan neto/laba yang sesuai dengan ketentuan pajak. Laporan keuangan fiskal disusun dengan menggunakan ketentuan-ketentuan pajak dalam laporang keuangan bisnis.

Rekonsiliasi Fiskal

Rekonsiliasi fiskal adalah lampiran SPT tahunan PPh badan yang berupa kertas kerja berisi penyesuaian antara laba rugi komersial sebelum pajak dengan laba rugi berdasarkan ketentuan perpajakan. Rekonsiliasi fiskal dilakukan dengan cara seluruh unsur penyusunan laporan laba rugi yang meliputi pendapatan dan beban.

Dalam rekonsiliasi fiskal terdapat beberapa koreksi fiskal positif dan koreksi fiskal negatif yang pengertiannya diurai sebagai dibawah ini :

  • Koreksi fiskal positif adalah koreksi fiskal yang mengakibatkan laba fiskal bertambah atau rugi fiskal berkurang sehingga laba fiskal lebih besar dari laba komersial atau rugi fiskal lebih kecil dari rugi komersial.
  • Koreksi fiskal negatif adalah koreksi fiskal yang mengakibatkan laba fiskal berkurang atau rugi fiskal bertambah sehingga laba fiskal lebih kecil dari laba komersial atau rugi fiskal lebih besar dari rugi komersial.

Jenis-jenis Rekonsiliasi Fiskal

1. Koreksi  Fiskal Positif

Koreksi  Fiskal Positif Yakni koreksi fiskal yang menyebabkan penambahan penghasilan kena pajak dan PPh terutang.
Jenis Koreksi Fiskal Positif antara lain sebagai berikut ini :
  • Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen, termasuk dividen yang dibayarkan oleh suatu perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi.
  • Biaya yang dikeluarkan atau dibebankan untuk kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu, ataupun anggota.
  • Pembentukan atau pemupukan dana cadangan kecuali sebagai berikut ini :
    1. Cadangan hutang-piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang menyalurkan kredit, sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan pembiayaan konsumen, dan perusahaan anjak piutang.
    2. Cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial yang dibentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
    3. Cadangan penjaminan pada Lembaga Penjamin Simpanan.
    4. Cadangan biaya reklamasi pada usaha pertambangan.
    5. Cadangan biaya pada penanaman kembali untuk usaha kehutanan.
    6. Cadangan biaya pada penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah industri untuk usaha pengolahan limbah industry.
  • Pajak Penghasilan.
  • Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk suatu kepentingan pribadi Wajib Pajak atau orang yang menjadi tanggungannya.
  • Gaji yang akan dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham.
  • Persediaan yang jumlahnya melebihi kapasitas jumlah berdasarkan metode penghitungan yang sudah ditetapkan dalam Pasal 10 UU No.36 Tahun 2008 tentang PPh.
  • Penyusutan yang jumlahnya melebihi jumlah kapasitas berdasarkan metode penghitungan yang sudah ditetapkan dalam Pasal 10 UU No.36 Tahun 2008 tentang PPh.

2. Koreksi  Fiskal Negatif

Yakni koreksi yang menyebabkan pengurangan penghasilan kena pajak dan PPh terutang.
Jenis Koreksi Fiskal Negatif antara lain sebagai berikut ini :
1)    Penghasilan yang telah dikenakan PPh Final antara lain sebagai berikut ini :
  • Penghasilan yang berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat utang negara, dan bunga simpanan yang di bayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi.
  • Penghasilan yang berupa hadiah undian.
  • Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau sebuah bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah dan/atau sebuah bangunan.
2)    Penghasilan yang bukan merupakan objek pajak antara lain sebagai berikut ini :
  • Warisan.
  • Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan  sebagai pengganti saham ataupun sebagai pengganti penyertaan modal.
  • Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi jiwa, asuransi kecelakaan, asuransi dwiguna, dan asuransi beasiswa.
  • Beasiswa yang harus memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
  • Persediaan yang jumlahnya kurang dari jumlah yang berdasarkan metode penghitungan yang sudah ditetapkan dalam Pasal 10 UU No.36 Tahun 2008 tentang PPh.
  • Penyusutan yang jumlahnya kurang dari jumlah yang berdasarkan metode penghitungan yang sudah ditetapkan dalam Pasal 10 UU No.36 Tahun 2008 tentang PPh.

Penyebab Terjadinya Rekonsiliasi Fiskal

Ada beberapa penyebab terjadinya Rekonsiliasi Fisikal diantaranya sebagai antara lain sebagai berikut ini :

  • Karna adanya perbedaan antara SAK dengan peraturan perpajakan (beda konsep, beda pengukuran, dan beda metode pengalokasian atau saat pengakuan biaya)
  • Karna adanya penghasilan tertentu yang bukan merupakan objek pajak, atau telah dikenakan PPh bersifat final.
  • Karna adanya kompensasi kerugian fiskal
  • Karna adanya harga yang tidak wajar karena hubungan istimewa

Contoh Rekonsiliasi Fiskal

Laporan laba rugi CV Gentho untuk tahun 2013 adalah sebagai berikut ini :

Contoh Rekonsiliasi Fisikal
Contoh Rekonsiliasi Fisikal

Rekonsiliasi fiskal untuk menghitung penghasilan neto adalah sebagai berikut ini :

Rekonsiliasi fiskal untuk menghitung penghasilan neto
Rekonsiliasi fiskal untuk menghitung penghasilan neto

Inilah tadi pembahasan lengkap mengenai materi tentang Rekonsiliasi Fiskal, Semoga Bermanfaat…

Baca Juga :