Rasio Likuiditas

Posted on

Rasio Likuiditas – Para Investor dan bank menggunakan rasio likuiditas untuk mengevaluasi sebuah bisnis. Rasio likuiditas merupakan sebuah kemampuan atau kekuatan yang dimiliki oleh suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

Semakin besar likuiditasnya, maka akan semakin rendah risikonya. Suatu perusahaan akan dianggap likuid apabila dapat memenuhi apa yang menjadi kewajibannya.

Rasio Likuiditas

Definisi Rasio Likuiditas

Liquidity Ratio adalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajibannya tanpa bergantung pada sumber eksternal, misalnya seperti pinjaman bank.

Persyaratan likuiditas sangat penting untuk memperhitungkan dampak ketidakmampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

Sehingga perusahaan tidak mendapat manfaat dari diskon dan peluang manajemen yang lebih terbatas serta langkah-langkah yang dihasilkan dari registrasi transaksi keuangan masyarakat.

Keadaan kesehatan suatu perusahaan tercermin dalam rasio likuiditas yang tinggi, yang biasanya diukur dengan rasio saat ini.

Ketika menggunakan likuiditas sebagai ukuran kinerja, maka perusahaan dengan rasio likuiditas rendah harus memberikan informasi yang lebih rinci dengan metrik lain dibandingkan dengan perusahaan dengan indeks likuiditas yang tinggi.

Baca Juga : Rumus Cash Ratio

Pengertian Liquidity Ratio Menurut Para Ahli

Selain penjelasan yang ada diatas, terdapat beberapa pengertian tentang Rasio Likuiditas menurut para ahli, diantaranya adalah :

  • Kasmir (2008), Rasio likuiditas memberikan gambaran tentang kemampuan perusahaan untuk membayar utang atau liabilitas jangka pendeknya.
  • Bambang Riyanto (2010), Rasio likuiditas terkait dengan masalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang harus dipenuhi segera.
  • Syafrida Hani (2015), Rasio likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan yang dapat dibayar atau yang sudah jatoh tempo.
  • Rambe, dkk. (2015), Rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan yang dimiliki perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan jangka pendeknya.

Macam – Macam Liquidity Ratio

Dibawah ini terdapat beberapa jenis dari Rasio Likuiditas beserta dengan rumus perhitungannya, yaitu diantaranya adalah :

1. Quick Ratio

Quick Ratio adalah salah satu rasio yang digunakan agar dapat dengan cepat mengidentifikasi likuiditas perusahaan dengan cara membandingkan kewajiban utang jangka pendek dengan aset jangka pendek.

Dalam merumuskan rasio cepat, terdapat beberapa yang harus diperhitungkan, misalnya seperti pinjaman jangka pendek, utang komersial, utang pajak, utang kartu kredit, dan biaya yang masih menjadi tanggungan.

Sedangkan untuk aset jangka pendek yang diperhitungkan meliputi likuiditas, kas dan piutang. Dalam laporan ini, investor tidak termasuk dalam aset karena mereka dianggap sulit untuk dikonversi menjadi uang tunai.

Berikut rumus dari Quick Ratio :
Quick Ratio = Kas + Surat Berharga + Piutang Neto : Kewajiban lancar.

2. Cash Ratio

Rasio Kas adalah salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur ketersediaan alat pembayaran perusahaan dan setara kas sehubungan dengan hutang saat ini.

Baca Juga : Rumus EPS

Maksudnya adalah, analisis Liquidity Ratio bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak likuiditas yang dimiliki oleh penerbit dan dapat dibayarkan olehnya jika ditagih kapan saja atau memiliki penyelesaian utang jangka pendek.

Berikut rumus dari Cash Ratio :
Rasio Kas = Kas dan Setara Kas / Utang Lancar (Liabilitas Jangka Pendek)

3. Current Ratio

Rasio Lancar adalah salah satu rasio yang digunakan untuk menilai kecukupan aset lancar perusahaan untuk pembayaran hutang atau hutang jangka pendek, yang digunakan untuk menghitung akun berdasarkan tipe neraca.

Ketika rasio antara utang jangka pendek dengan hutang lancar, tinggi maka kemampuan perusahaan untuk membayar utang jangka pendeknya juga tinggi. Jika rasio saat ini adalah 1: 1 atau 100%, hal itu berarti bahwa aktiva lancar dapat membayar kewajiban jangka pendek.

Berikut rumus dari Cash Ratio :
Current Ratio = Aktiva Lancar (Current Ratio) / Utang Lancar (Current Liabilities) x 100%

4. Working Capital to Total Asset Ratio

WCTA adalah salah satu rasio yang digunakan untuk menilai likuiditas dengan cara menghitung total aset dan modal kerjanya. Hakikat akuntansi memiliki dampak yang sangat signifikan pada jenis rasio ini.

Berikut rumus dari WCTA Ratio :
Working Capital to Total Assets Ratio = Current Assets – Current Liabilities / Total Assets x 100%

5. Cash Turnover Ratio

Rasio perputaran kas adalah salah satu jenis rasio yang digunakan untuk menunjukkan rasio antara nilai penjualan bersih dengan aset lancar bersih. Modal kerja bersih berupa bentuk dari semua komponen aktiva lancar yang dikurangi dengan total hutang jangka pendek.

Rasio ini berfungsi untuk mengetahui berapa banyak pendapatan yang dihasilkan oleh suatu perusahaan untuk modal kerja.

Berikut rumus dari Cash Turnover Ratio :
Cash Turnover Ratio = Penjualan Bersih / Modal Kerja Bersih x 100%

Baca Juga : Rumus PER

F.A.Q

Apa yang dimaksud dengan Rasio Likuiditas?

Liquidity Ratio adalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajibannya tanpa bergantung pada sumber eksternal, misalnya seperti pinjaman bank.

Apa saja komponen dari Rasio Likuiditas?

1. Kerapatan, adalah jarak yang terjadi pada harga yang disepakati dengan harga normal terhadap suatu barang.
2. Kedalaman, adalah jumlah dan volume produk yang dijual dan dibeli pada tingkat harga tertentu.
3. Keandalan, adalah kecepatan di mana harga lewat pada harga yang efisien setelah ketidakpastian atau perubahan harga.

Apa saja fungsi dari Rasio Likuiditas?

1. Sebagai sarana untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
2. Mengantisipasi dana yang diperlukan jika perlu.
3. Mempermudah pelanggan (lembaga keuangan atau bang) menarik uang.
4. Sebagai poin penting bagi perusahaan untuk mendapatkan izin kerja atau investasi menguntungkan lainnya.

Demikianlah pembahasan dari artikel kali ini, semoga bermanfaat dan menambah wawasan baru untuk kita semua.

Related posts: