Perang Diponegoro

Posted on

Perang Diponegoro – Negara Indonesia pernah mengalami sebuah masa dimana didalamnya terdapat berbagai macam peperangan yang terjadi hampir di semua daerah, dan salah satunya adalah Perang Diponegoro.

Apa yang dimaksud dengan Perang Diponegoro? Nah, agar lebih memahaminya, kali ini kita akan mengulas secara bersama-sama tentang sejarah singkat dari perang yang terjadi di daerah Ponegoro secara lengkap.

Perang Diponegoro

Sejarah Terjadinya Perang Diponegoro

Perang Diponegoro adalah salah satu jenis perang terbesar yang terjadi diwilayah pulau Jawa, Hindia Belanda yang terjadi kurang lebih sekitar selama lima tahun.

Perang ini merupakan sebuah pertempuran terbesar yang pernah dilalui oleh Bangsa Belanda selama masa kekuasaannya di wilayah Nusantara.

Mengapa disebut sebagai perang terbesar? Sebab, pertempuran ini melibatkan pasukan Belanda yang berada dibawah pimpinan Jenderal  Hendrik Merkus de Kock.

Berbagai macam dukungan datang untuk membantu pasukan Diponegoro terutama yang berasal dari para ulama, yaitu antara lain dari Pangeran Mangkubumi, Sentot Ali Basyah, Haji Mustopo, Haji Badarrudin dan juga Kyai Mojo.

Akibat dari adanya perang ini, sekitar 200.000 penduduk yang ada di Pulau Jawa tewas, sementara itu korban tewas yang berasal dari pihak Belanda hanya berjumlah sekitar 8.000 tentara Belanda dan juga 7000 serdadu pribumi.

Kemudian, pada tanggal 20 Juli 1925, Belanda berniat untuk menangkap Pangeran Diponegoro di kediamannya yang berada di daerah Tegalrejo. Namun akhirnya beliau bisa melarikan diri ke daerah Dekso, Kulonprogo dan akhirnya sampai di Goa Selarong yang ada di daerah Bantul.

Akhirnya, pada tanggal 8 Januari 1855 Pangeran Diponegoro wafat di wilayah Benteng Rotterdam yang ada di Makassar.

Karena kegemilangannya dan juga kegencarannya didalam peperang serta memperoleh beberapa kemenangan, beliau diberi gelar Sultan Abdulhamid Cokro Amirul Mukminin Sayidin Panotogomo Khalifatulloh Tanah Jowo.

Baca Juga : Kerajaan Tarumanegara

Faktor Penyebab Terjadinya Perang Diponegoro

Perang Diponegoro

Terdapat beberapa faktor umum yang menjadi penyebab terjadinya perang Diponegoro tersebut, yaitu diantaranya sebagai berikut :

  • Adanya penyempitan daerah kekuasaan yang ada di mataram dan juga para raja serta pribumi kehilangan kedaulatannya.
  • Belanda selalu ikut campur segala urusan internal kesultanan misalnya seperti pengangkatan seorang raja dan juga patih.
  • Adanya kekecewaan dari para ulama terhadap Belanda karena kebudayaannya tidak sesuai dengan ajaran islam.
  • Adanya kekecawaan yang berasal dari para bangsawan karena Belanda tidak mau mengikuti berbagai macam adat istiadat keraton.
  • Kehidupan rakyat Jawa semakin hari semakin menderita karena tidak hanya melakukan kerja paksa, rakyat juga dituntut untu membayar berbagai macam pajak yang ada.

Tidak hanya itu saja, yang menjadi penyebab terjadinya Perang Diponegoro adalah adanya pemasangan Patok yang dilakukan oleh Belanda untuk membangun sebuah jalan yang melintasi tanah dan makam para leluhur dari pangeran Diponegoro yang ada di Tegalrejo,

Pemasangan patok tersebut dilakukan tanpa adanya izin dari kerajaan yang ada di Pulau Jawa, sehingga hal ini ditentang oleh Pangeran Diponegoro.

Baca Juga : Kerajaan Demak

Strategi Yang Dilakukan Dalam War in Ponegoro

Didalam upaya untuk menghadapi pasukan Belanda, Pangeran Diponegoro memakai sebuah taktik, yang diberi nama Taktik Gerilya yaitu sebuah strategi yang dilakukan dengan cara melakukan pengelabuan, serangan kilat dan juga pengepungan tak terlihat.

Sedangkan dari pihak Belanda, untuk menghadapi pasukan Diponegoro, pasukan Belanda yang kala itu di pimpin dengan De Kock menggunakan sebuah taktik yang diberi nama dengan Benteng Stelsel.

Benteng Stelsel yaitu sebuah startegi yang dilakukan dengan cara mendirikan benteng-benteng di setiap daerah yang dikuasainya, benteng tersebut dihubungkan dengan jalan agar komunikasi dan juga pergerakan dari pasukan tersebut berjalan lancar.

Adapun tujuan dari diterapkannya sistem Benteng Stelsel adalah sebagai berikut :

  • Unntuk mempersempit atau membatasi ruang gerak dari pasukan Diponegoro.
  • Bertujuan untuk memecah belah pasukan Diponegoro.
  • Untuk mencegah masuknya berbagai bantuan untuk Pangeran Diponegoro.
  • Melemahkan segala upaya yang dilakukan oleh pasukan Diponegoro.
  • Bagi Belanda sendiri dapat memperlancar hubungan antara Belanda jika mendapat serangan dari pasukan Pangeran Diponegoro

Baca Juga : Kerajaan Mataram Kuno

F.A.Q

Siapa nama asli dari Pangeran Diponegoro?

Pangeran Diponegoro adalah seorang bangsawan yang berasal dari Pulau Jawa, beliau memiliki nama kecil Mustahar, yang lahir di Keraton Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785.

Apa dampak yang di rasakan karena terjadinya Perang Diponegoro?

Akibat dari adanya peperangan besar yang melawan Pangeran Diponegoro, kas Belanda akhirnya terkuras habis karena digunakan untuk membiayai perang dan belanda juga mendapatkan beberapa wilayah yang ada di Yogyakarta dan Surakarta serta kekuasaan Kerajaan-kerajaan Jawa mulai berkurang.

Pangeran Diponegoro wafat pada tanggal ?

pada tanggal 8 Januari 1855 Pangeran Diponegoro wafat di wilayah Benteng Rotterdam yang ada di Makassar dan kemudian beliau diberi gelar Sultan Abdulhamid Cokro Amirul Mukminin Sayidin Panotogomo Khalifatulloh Tanah Jowo.

Demikianlah pembahasan dari artikel kali ini, semoga bermandaat dan menambah wawsan baru untuk kita semua.