Peninggalan Kerajaan Pajajaran

Posted on

Peninggalan Kerajaan Pajajaran – Pajajaran atau Kerajaan Sunda merupakan salah satu kerajaan Hindu yang terletak di bagian barat Pulau Jawa, atau lebih tepatnya berada di Parahyangan, Sunda. Kerajaan ini ibu kotanya berada di Pajajaran (yang sekarang sudah menjadi Bogor).

Peninggalan Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Pajajaran ini juga dapat disebut sebagai Pakuan Pajajaran, kata pakuan atau pakuwon memiliki arti Kota. Sehingga, Kerajaan Pajajaran dapat disebut dengan nama Kota Pajajaran.

Jika dilihat dari beberapa catatan sejarah yang ada, menurut catatan tersebut bahwa Kerajaan ini dibangun pada tahun 923 Masehi oleh Sri Jayabhupati. Hal ini tentunya sesuai dengan yang sudah disebutkan pada prasasti Sanghyang Tapak tahun 1030 M.

Tercatat selama Kerajaan Pajajaran berdiri di Indonesia ada 5 raja yang memerintah Kerajaan tersebut pada saat masih berada di Pakuan Pajajaran. Dari lima raja yang memimpin tersebut, masa keemasan dari Pajajaran terjadi ketika Sri Baduga Maharaja menduduki tahta raja.

Tidak hanya cerita kerajaannya saja yang menarik untuk dibahas, namun kerajaan ini juga ternyata memberikan jejak lainnya, seperti peninggalan bersejarah yang sampai saat ini tetap terawat keberadaanya.

Peninggalan Kerajaan Pajajaran

Peninggalan Kerajaan Pajajaran

Di bawah ini terdapat beberapa peninggalan yang menjadi bukti sejarah dari adanya Kerajaan Pajajaran, yaitu :

1. Prasasti Batu Tulis

Epigraf Batu Tulis ini berlokasi di Kel. Batu Tulis, Kec. Bogor Selatan, Kota Bogor. Peninggalan ini terletak di kompleks dengan luas sekitar 17 x 15 m. Prasasti itu diperiksa untuk pertama kalinya sekitar 1806 dengan sidik jari di Leiden University, sebuah universitas di Belanda.

Prasasti ini merupakan peninggalan Kerajaan Pajajaran, yaitu sebuah kerajaan bergaya Hindu dari abad ke-11 hingga ke-16. Prasasti ini ditulis pada batu transit, yang merupakan jenis batu yang ditemukan di sepanjang sungai Cisadane.

2. Prasasti Huludayeuh

Prasasti ini terletak di desa Huludayeuh, Dusun Cikalahang, Kec. Dukupuntang, Kota Cirebon. Sebenarnya, prasasti ini sudah lama diketahui oleh penduduk setempat, tetapi sejarawan dan arkeolog menemukan prasasti ini pada tanggal 11 September 1991.

Dalam prasasti ini terdiri dari 11 baris tulisan yang ditulis dengan menggunakan bahasa Sunda Kuno. Prasasti ini dijumpai saat pertama kali dalam keadaan yang tidak sempurna sehingga hal menyebabkan beberapa aksara menghilang.

3. Prasasti Ulubelu

Prasasti Ulubelu adalah prasasti menurut sejarawan termasuk sebagai peninggalan dari kerajaan Sunda di abad ke 15 M. Situs sejarah ini dijumpai di wilayah Ulubelu, Desa Rebangpunggung, Kota Agung, Prov. Lampung pada tahun 1936.

Oleh sebab itu prasasti yang dijumpai di wilayah Ulubelu ini disimpan di dalam Museum Nasional dengan nomor inventaris D.154.

Baca Juga :
Peninggalan Kerajaan Banten
Kerajaan Pajajaran
Peninggalan Kerajaan Majapahit

4. Prasasti Kebon Kopi II

Situs sejarah ini adalah peninggalan dari Kerajaan Sunda Galuh, yang lokasi penemuannya tidak jauh dari tempat ditemukannya prasasti Kebon Kopi I. Namun, sekitar tahun 1940-an, prasasti ini dicuri. Sebelum benda sejarah ini hilang, sempat diteliti terlebih dahulu oleh ahli bernama F.D.K. Bosch diperiksa.

Peneliti ini menyatakan bahwa di dalam prasasti tersebut isi dari prasasti Kebon Kopi II ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu Kuno yang menjelaskan tentang kisah seorang raja Sunda yang memperoleh tahtanya kembali pada tahun 932 M.

5. Situs Karangkamulyan 

Situs sejarah ini adalah sebuah situs bersejarah kuno yang terletak di Kec. Cijeungjing, Kab. Ciamis, Jawa Barat, atau lebih tepatnya berada di desa Karangkamulyan. Peninggalan ini merupakan situs yang bergaya Hindu-Budha dari Kerajaan Galuh.

6. Prasasti Cikapundung

Prasasti peninggalan dari Kerajaan Pajajaran ini dijumpai sekitar tahun 1884 di wilayah perkebunan kina Cikapundung-Ujungberung. Saat ini, prasasti tersebut sudah disimpan dalam patung Cikapundung yang ada di Museum Nasional dengan inventaris 479c / D184. Situs sejarah ini ini diukir pada patung megalitik (batu besar).

7. Perjanjian Sunda-Portugis

Situs sejarah ini adalah prasasti yang ditemukan dalam bentuk monumen batu (Padrão). Prasasti ini pertama kali dijumpai di Batavia, Hindia Belanda, pada tahun 1918. Prasasti ini menceritakan perjanjian antara Kerajaan Sunda dengan Portugal.

Perjanjian tersebut ditetapkan oleh seorang utusan komersial Portugis dari Malaka dengan pemandu mereka bernama Enrique Leme . Padrão sendiri dibangun di situs tempat gudang dan benteng yang dibangun untuk Portugis.

8. Prasasti Pasir Datar

Situs sejarah Pasir Datar ini dijumpai di kawasan Perkebunan Kopi, atau lebih tepatnya berada di Pasir Datar, Desa Cikande, Kec. Cicantayan, Kab. Sukabumi pada tahun 1872. Menurut N.J. Krom, yaitu salah satu sejarawan dari Belanda, prasasti ini disimpan di dalam Museum Nasional Jakarta.

9. Komplek Makam Keramat

Kompleks Makam Suci atau makam keramat juga merupakan peninggalan dari kerajaan Pajajaran. Makam ini berlokasi di kawasan Kebun Raya Bogor, Desa Paledang, Kab. Bogor, Kota Bogor, Jawa Barat.

Di makam terdapat makam dari Ratu Galuh Mangkualam, yaitu istri kedua Sri Baduga Maharaja, yang lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi, yaitu salah satu raja dari Pakuan Pajajaran.

F.A.Q

Argadana Pajajaran itu siapa?

Beliau merupakan seorang Raja dari Kerajaan Pajajaran yang sangat tersohor atau terkenal, bahkan beliau memiliki gelar yang disandangnya yaitu Sri Baduga Maharaja.

Penyebab runtuhnya Kerajaan Pajajaran adalah?

Salah satu penyebab dari runtuhnya Kerajaan Pajajaran ini adalah karena adanya serangan yang dilakukan oleh kerajaan sunda lainnya, seperti Kesultanan Banten. Kerajaan Pajajaran ini mengalami kemunduran di tahun 1579.

Raja-raja dari Kerajaan Pajajaran?

1. Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521).
2. Surawisesa (1521 – 1535).
3. Ratu Dewata (1535 – 1543).
4. Ratu Sakti (1543 – 1551).
5. Ratu Nilakendra (1551-1567).
6. Raga Mulya (1567 – 1579).

Sekian dari referensi yang dapat disampaikan dalam ulasan kali ini. Semoga artikel di atas dapat membantu readers untuk mempelajarinya.

Related posts: