Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo

Posted on

Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo – Gowa dan Tallo adalah dua kerajaan yang terletak di kawasan Sulawesi Selatan. Sekitar tahun 1605 atau pada abad ke- 16, raja Gowa (Daeng Manrabia) dan raja Tallo (Karaeng Matoaya) sudah menganut agama Islam.

Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo

Nah, di abad itu juga kedua kerajaan ini kemudian menggabungkan wilayah kekuasaan mereka untuk menjadi satu kerajaan besar yaitu Kerajaan Makassar, dan Daeng Manrabia lah yang menjadi pemimpin di kerajaan tersebut.

Sedangkan, Karaeng Matoaya saat itu menjadi perdana menteri Kerajaan Makassar. Kemudian, Raja Daeng Manrabia mengganti namanya menjadi Sultan Alauddin, sementara itu perdana menteri Karaeng Matoaya mengganti namanya menjadi Sultan Abdullah. 

Landasan dari pembentukan Kesultanan Makassar adalah adanya pengaruh yang diberikan oleh Kerajaan Gowa dan juga Tallo di semenanjung barat daya Sulawesi, dimana kawasan ini menjadi tempat yang sangat strategis bagi kegiatan perdagangan rempah-rempah.

Tidak hanya berdagang rempah-rempah saja, namun bahkan pedagang Muslim yang berjualan di wilayah tersebut juga memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap penyebaran agama Islam.

Dengan adanya catatan sejarah yang menjelaskan betapa hebatnya keberadaan dari kedua kerajaan ini pada masanya, pasti ada banyak peninggalan sejarah dari kerajaan ini, yang tentunya masih dapat kita jumpai saat ini.

Untuk itu berikut ini akan Rumus.co.id informasikan kepada para readers setia mengenai Peninggalan dari Kerajaan Gowa Tallo yang Bersejarah.

Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo

Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo

Di bawah ini terdapat beberapa peninggalan dari Kerajaan Gowa Tallo yang dijadikan bukti sejarah dari berdirinya Kerajaan ini, diantaranya adalah :

1. Benteng Ford Ratterdam

Ford Ratterdam atau yang juga dikenal sebagai Benteng Ujung Pandang oleh penduduk sekitar adalah bangunan benteng yang menjadi peninggalan dari kerajaan Gowa Tallo.

Benteng Ujung Pandang ini terletak di tepi pantai sebelah barat dari kota Makassar, Sulawesi Selatan. Bangunan benteng ini didirikan oleh raja dari Kerajaan Gowa yang ke 9, yang bernama Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ Kallonna di tahun 1545 M.

2. Masjid Katangka

Masjid Katangka adalah salah satu masjid tertua yang berdiri di wilayah Sulawesi Selatan yang sampai saat ini tetap berdiri dengan kokoh. Bangunan Masjid ini mendapat julukan Katangka, karena bahan dasar yang digunakan untuk mendirikannya diambil dari pohon katangka.

Diperkirakan bahwa Masjid Katangka ini sudah mulai didirikan sekitar tahun 1903 M. Namun, sebagian besar para sejarawan masih ragu mengenai hal tersebut. Terdapat referensi lain yang juga menceritakan bahwa masjid ini dibangun pada abad ke-18 Masehi.

3. Masjid Jongaya

Masjid Jongaya ini pertama kali didirikan oleh seorang Raja Gowa ke-34 yang bernama Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang Sultan Husain Tumenangan Bandu’na pada saat perayaan hari ulang tahun dari Nabi Muhammad SAW pada tahun 1314 H.

Berdasarkan dengan informasi yang didapat dari penduduk setempat, setelah Masjid Nurul Mu’minin dan juga Masjid Katangka, masjid ini adalah masjid ketiga yang didirikan oleh Kerajaan Gowa. Untuk gaya arsitekturnya hampir sama, karena masih didirikan oleh keturunan dari raja Gowa.

Baca Juga :
Peninggalan Kerajaan Islam
Peninggalan Kerajaan Ternate dan Tidore
Kerajaan Kutai

4. Masjid Nurul Mu’minin

Nurul Mu’minin merupakan masjid yang menjadi peninggalan dari kerajaan Gowa Tallo yang terletak di Jl. Urip Sumoharjo, Makassar. Diperkirakan bangunan masjid ini didirikan pada tahun 1700 yang lalu.

Konon, masjid ini dibangun oleh salah satu dari putra kerajaan Gowa, putra tersebut bernama Andi Cincing Karaeng Lengkese. Didirikannya masjid ini bertujuan untuk membantu penduduk setempat yang sulit untuk pergi ke tempat sholat karena jaraknya yang cukup jauh yaitu Masjid Jongaya.

5. Kompleks Makam Katangka

Kompleks dari Makam Katangka berada di areal sekitar dari bangunan masjid Katangka. Dalam kompleks pemakaman ini terdapat makam dari keluarga dan juga keturunan para raja Gowa tak terkecuali sultan Hasanudin.

Jika ingin mengenali makam-makam yang terdapat didalam kompleks ini sangat sederhana, sebab makam dari para raja ditutupi dengan kubah, sedangkan untuk makam dari para pemimpin agama dan juga keturunan kerajaan hanya diberikan batu nisan biasa.

6. Batu Pallantikang

Batu Pallantikang atau Pelantikan ini merupakan sebuah batu andesit yang bentuknya diapit dengan batu kapur. Sebagian besar dari penduduk yang tinggal disekitarnya menganggap bahwa batu tersebut memiliki petuah, sebab diyakini bahwa batu tersebut berasal dari kayangan.

7. Istana Balla Lompoa

Istana Balla Lompoa adalah peninggalan dari kerajaan Gowa Tallo yang terletak di wilayah Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, atau lebih tepatnya berada di kelurahan Sungguminasa.

Diperkirakan bahwa Istana ini pertama kali didirikan oleh raja Gowa yang ke 3, yaitu Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin Tumenanga Ri Sungguminasa atau I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo.

8. Benteng Somba Opu

Benteng Somba Opu merupakan bangunan yang dibangun oleh raja ke-9 dari Kerajaan Gowa, yaitu Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallona di abad ke-16 M. Bangunan benteng ini terletak di Jl. Daeng Tat, Kelurahan Benteng Somba Opu, Kec. Barombong, Kab. Gowa, Sulawesi Selatan.

Zaman dahulu, bangunan ini dijadikan sebagai pusat perdagangan pelabuhan dan juga rempah-rempah yang diperjualbelikan di Asia dan juga Eropa. Namun, benteng ini berhasil ditaklukan oleh VOC tahun 1969, dan setelah itu dihancurkan dan tertelan oleh ombak.

9. Kuburan Syekh Yusuf Tajul Khalwati

Syekh Yusuf Tajul Khalwati atau lebih dikenal dengan nama Syekh Yusuf Al Makassari Al-Bantani merupakan ulama besar yang dilahirkan di Kerajaan Gowa pada tanggal 3 Juli 1926.

Syekh Yusuf memiliki peranan yang sangat berpengaruh untuk perlawanan yang dilakukan oleh penduduk Gowa Tallo terhadap penjajah. Dengan pengaruhnya tersebut membuat para merasa sangat terusik. 

Kemudian beliau diasingkan ke kawasan Srilanka, India pada bulan September 1684, kemudian diasingkan lagi ke Cape Town, Afrika Selatan. Namun, ketika beliau meninggal jenazahnya dibawa ke wilayah asalnya yaitu Makassar dan dikuburkan di dataran rendah Lakiung bagian Barat masjid Katangka.

F.A.Q

Penyebab dari runtuhnya Kerajaa Gowa Tallo yaitu?

Runtuhnya Kerajaan Gowa-Tallo yaitu disebabkan karena adanya pengkhianatan yang dilakukan oleh Raja Aru Palaka dari Bone dengan Belanda kepada Sultan Hasanudin dengan cara memaksanya untuk menandatangani Perjanjian Bongaya di tahun 1667.

Isi dari Perjanjian Bongaya adalah?

1. VOC mendapatkan hak untuk memonopoli perdagangan di wilayah Makassar.
2. Belanda bisa membangun Benteng di Makassar.
3. Kerajaan Gowa Tallo harus melepaskan wilayah kekuasaannya, seperti Bone dan juga beberapa pulau yang berada diluar Makassar.
4. Pengakuan Aru Palaka sebagai raja dari Kerajaan Bone.

Siapa dua raja yang berhasil menggabungkan Kerajaan Gowa dan Tallo?

Kedua raja yang menyatukan Kerajaan Gowa dan Tallo menjadi Kesultanan Makassar yaitu raja Daeng Manrabia dan raja Karaeng Matoaya.

Demikian ulasan ringkas mengenai informasi yang dibahas diatas, semoga menjadi ilmu baru untuk kita.