Peninggalan Kerajaan Banten

Posted on

Peninggalan Kerajaan Banten – Banten merupakan Kerajaan bercorak Islam yang berdiri di Nusantara pada abad ke 16, tepatnya di wilayah Pasundan, Provinsi Banten, Indonesia.

Peninggalan Kerajaan Banten

Kerajaan Banten merupakan salah satu dari beberapa kerajaan Islam di Indonesia yang memiliki peranan sangat penting dalam proses penyebaran Agama Islam di pulau Jawa. Wilayah kekuasaan dari kerajaan ini yaitu bagian barat dari pantai Jawa hingga ke Lampung.

Pemerintahan Banten ini didirikan oleh Sunan Gunung Jati pada tahun 1526. Namun, sunan Gunung Jati tidak menjadi raja pertama dari Kerajaan Banten, melainkan putranya yang bernama Maulana Hasanuddin.

Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa yaitu dari tahun 1561 hingga 1682. Di bawah pemerintahannya, Banten mampu membangun armada kerajaan yang sangat kuat dan mempesona serta mempekerjakan bangsa Eropa di Kesultanan Banten.

Di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Kerajaan Banten berhasil menaklukkan kerajaan Tanjungpura sekitar tahun 1661 dan mampu melepaskan diri dari kontrol VOC, yang telah memblokir kapal dagang di Banten.

Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Kerajaan Banten terus mengalami perkembangan yang sangat pesat, hingga Kerajaan Banten mengalami konflik internal sekitar tahun 1680 karena pergolakan dan perselisihan yang melibatkan Sultan Ageng dengan putranya, Sultan Haji.

Sama seperti Kerajaan yang lainnya, bahwa Kesultanan Banten pun memiliki peninggalan-peninggalan sejarah yang menjadi bukti dari adanya Kerajaan tersebut. Yuk simak pembahasan yang ada di bawah ini.

Peninggalan Kerajaan Banten

Peninggalan Kerajaan Banten

Di bawah ini adalah peninggalan yang dimiliki pada masa pemerintahan Kerajaan Banten, yaitu diantaranya adalah :

1. Komplek Keraton Surosowan

Area Komplek Keraton Surosowan merupakan tempat tinggal dari para sultan Banten mulai dari pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin pada tahun 1552 sampai pemerintahan Sultan Haji pada tahun 1672-1687.

Awalnya, bangunan keraton yang luasnya hampir 4 Ha itu disebut sebagai Kedaton Pakuwan. Keraton ini didirikan dengan material bata merah dengan kombinasi batu karang dengan ubin yang berbentuk belah ketupat dan berwarna merah.

Namun saat ini, bangunan tersebut sudah runtuh oleh tanah karena mendapat serangan dari Belanda dalam perang bersama Kerajaan Banten.

2. Komplek Masjid Agung

Masjid Agung merupakan peninggalan dari Kerajaan Banten yang berlokasi di sebelah barat Alun-Alun Kota. Bangunan ini didirikan pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin yang dirancang dengan menggunakan nuansa Tradisional.

Salah satu ciri khas yang terlihat dari bangunan masjid ini yaitu terletak pada atapnya yang terdiri dari 5 susun dan bergaya China. Hal ini merupakan karya dari arsitek China bernama Tjek Ban Tjut.

3. Meriam Ki Amuk

Terdapat beberapa jenis meriam di dalam Benteng Speelwijk dan salah satu yang terbesar adalah meriam Ki Amuk. Meriam ini mempunyai daya tembak yang sangat besar dengan kekuatan ledak yang luar biasa. Ini adalah hasil rampasan Kesultanan Banten kepada Belanda selama perang.

4. Vihara Avalokitesvara

Vihara ini adalah bukti bahwa toleransi di antara komunitas-komunitas keagamaan dipertahankan dengan baik pada masa Kerajaan Islam. Hal ini tentunya dapat dilihat bahwa Tempat ibadah bagi umat Buddha ini masih dipertahankan dan kuat hingga sekarang.

Keunikan yang terdapat pada Avalokitesvara Vihara ini yaitu adanya sebuah relief pada dinding vihara, dimana relief tersebut menceritakan kisah siluman ular putih.

5. Istana Keraton Kaibon

Peninggalan dari Kerajaan Banten yang selanjutnya adalah Istana Keraton Kaibon, yang dipakai untuk tempat tinggal dari Ibunda Ratu Aisyah. Ratu Aisyah, tidak lain adalah ibu dari Sultan Syaifuddin.

Akan tetapi, saat ini bangunan tersebut sudah tidak ada lagi, hanya tersisa reruntuhan bangunannya saja. Hal ini karena adanya konflik yang terjadi antara Kerajaan Banten dan pemerintah Belanda sekitar tahun 1832.

6. Benteng Speelwijk

Benteng Speelwijk adalah situs bersejarah di Kerajaan Banten, yang didirikan sebagai pusat pertahanan bagi Kesultanan Banten. Bangunan itu dibangun sekitar tahun 1585 dengan ketinggian mencapai 3 meter.

Benteng ini tidak hanya sebagai tembok pertahanan yang kokoh saja ketika mendapat serangan laut, akan tetapi juga mempunyai mercusuar yang digunakan untuk memantau navigasi di perairan Selat Sunda.

Selain itu, terdapat beberapa meriam dan juga terowongan yang ada di dalamnya dan berfungsi untuk menghubungkan benteng dengan istana Surosowan.

Baca Juga :
Kerajaan Pajajaran
Peninggalan Kerajaan Aceh
Kerajaan Demak

7. Danau Tasikardi

Tasikardi adalah danau buatan, yang berlokasi di dekat Istana Keraton Kaibon. Danau tersebut diciptakan pada tahun 1579 hingga 1580, pada saat Maulana Yusuf menjadi Sultan dari Kerajaan Banten.

Mulanya, danau ini memiliki luas sekitar 5 Ha, namun saat ini sudah berkurang karena pada tepian danau tersebut terkubur dengan tanah sedimen yang dibawa oleh arus air hujan dan juga sungai yang berada di dekat danau tersebut.

8. Masjid Agung Kenari

Bangunan Masjid Agung ini berlokasi di Desa Kenari kurang lebih terletak di 3 Km ke arah Selatan dari letak Masjid Agung Banten. Masjid Agung ini merupakan Masjid tertua yang didirikan pada pemerintahan dari Sultan Abdul Mufakhir pada tahun 1596 sampai 1651.

9. Jembatan Rante

Rante merupakan jembatan yang dibangun diatas sungai yang terdapat di Kota Lama Banten atau lebih tepatnya berada di 300 m sebelah utara dari letak Benteng Surosowan.

Jembatan ini berfungsi sebagai tol-perpajakan bagi setiap perahu atau kapal kecil untuk mengangkut barang dagangan dari warga asing yang hendak masuk ke area kita Kerajaan.

10. Watu Gilang

Batu atau Watu Gilang ini merupakan sebuah batu yang memiliki bentuk persegi dan mempunyai permukaan batu yang datar. Watu ini terbuat dari material Batu Andesit. Watu Gilang merupakan peninggalan dari Kerajaan Banten yang berada di bagian timur laut dari Meriam Ki Amuk.

Menurut sejarah dan juga Babad Banten, Watu Gilang ini digunakan sebagai tempat untuk mengambil sumpah dari para calon Sultan Kerajaan Banten atau pada penobatan Sultan yang baru.

F.A.Q

Apa penyebab dari runtuhnya Kerajaan Banten?

Perang persaudaraan yang terjadi antara Sultan Haji dengan Sultan Ageng Tirtayasa yang memperebutkan kekuasaan merupakan salah satu penyebab dari runtuhnya Kerajaan Banten.

Secara geografis, letak dari Kerajaan Banten di?

Jika dilihat secara geografis, Kerajaan Banten ini terletak di wilayah Provinsi Banten. Daerah kekuasaannya mencakup wilayah Pulau Jawa bagian barat, seluruh kawasan Lampung dan juga sebagian daerah di wilayah selatan Jawa Barat.

Mengapa Kerajaan Banten disebut sebagai negara maritim?

Sebab, wilayah Kerajaan Banten ini sebagian besar berada di daerah pesisir pantai dan semua rakyatnya melakukan aktivitas yang berhubungan dengan laut seperti perdagangan, pelayaran dan tambak ikan.

Demikianlah informasi yang dapat kami berikan untuk para pembaca. Semoga dapat membantu untuk mempelajarinya.

Related posts: